"Kasih sayang Allah pasti datangnya, meski terasa nun jauh d sana.. Ia kan tiba laksana kerdipan mata bila sudah saatnya..."
Sabtu, 10 April 2010
Tuhan tidak Pernah Istirahat
Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11
malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini. Ah,
hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan,
warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah,
badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan.
Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi
goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan,
pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian,
ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.
Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan...,"
begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.
Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian
yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan
tendanya,
saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja.
Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak
sibuk. Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah
pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.
Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera
saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula
canggung
mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih,
orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh kearah
saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil
menghisap rokok dalam-dalam.
"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah,
rezekinya jadi berkurang dong ya?" Duh. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja,
tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya
akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru...
"Gusti Allah, ora sare dik, (Allah itu tidak pernah istirahat), begitu
katanya. "Rezeki saya ada dimana-mana. Saya malah senang kalau hujan
begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah,
walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan,
"Anak saya yang disini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih
hujan..."
Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare".
Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya.
Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya,
tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Makna nya
terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan
saya di hadapan Tuhan.
Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi
banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa
materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga
berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma
harus
bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun
rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah
berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa
menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian
orang yang
mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.
Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu
pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak di benak
saya. "Ya Allah, Engkau Memang Maha yang Tak Pernah Beristirahat"
Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam
perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare.....
Gusti Allah Ora Sare.....
Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya.
Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan
cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat
hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi
semakin banyak belajar.
Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan
sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia,
harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya
ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.
Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap
doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai
hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang
terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan
hal-hal besar n istimewa. Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun,
Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.
Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku
masalah agar aku mampu memecahkannya. Aku berdoa agar diberikan
kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat
belajar dari-Nya.
Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku
marabahaya agar aku mampu menghadapinya. Aku berdoa agar diberikan cinta
dan kasih
sayang...Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku
dapat berbagi dengannya. Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun,
Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.
Teman, terima kasih telah membaca.
Burung Gagak
Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja
menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di
halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon.
Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah
benda tersebut?"
"Burung gagak", jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi
lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar
jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung gagak
ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang
sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi
mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan
kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab
pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".
Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si
ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan
yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan
menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak.
Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun
sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada
yang begitu marah.
Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si
anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan
membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada
anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut
sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam
diari itu", pinta si ayah.
Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......
"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima
tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk
ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku
menjawab, "Burung gagak".
Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama
dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali
anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus
menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa
hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."
Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka
memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan
bersuara, " Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang
sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan
marah."
Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan
sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di waktu
kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang
dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan.
Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.
Sumber: Ungknown (Tidak Diketahui)
Saya Ibu Terburuk di Dunia
* SEBUAH KISAH IRONIS DI IRLANDIA UTARA YANG TELAH
DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA INDONESIA
SAYA IBU TERBURUK DIDUNIA INI
Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini...,
sebelum ajal menjemputku...
20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak
laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh... Sam,
suamiku, memberinya nama Eric.Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak
ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang
lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah
niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun
melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya
Angelica.Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali
kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian
anak-anak yang indah-indah...
Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya
memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat
membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan
uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun
Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga
kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk.
Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur
hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya
beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu
saja.Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual
untuk membayar hutang. Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10
tahun... telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali
dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun
kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois,
dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan
penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di
asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric
dan tidak ada lagi yang mengingatnya.
Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi
tentang seorang anak...
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia
melihat ke arah saya.Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante
kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!"
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi,
namun saya menahannya,"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???"
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah,
sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu
juga.
Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi
dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya.
Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya
perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya,
saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau
yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan
Eric melintas kembali di pikiran saya.Ya Eric, mommy akan menjemputmu
Eric...Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah
gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa
yang sebenarnya terjadi?" "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya
menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu," tapi aku akan
nenceritakannya juga dengan terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada
saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh
pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad
dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter
dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah
saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric...
Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.Dengan
perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang
terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun
juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan
kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di
dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai
tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata
mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas
baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit
dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja.Sesaat kemudian saya dan
Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya
melihat seseorang di belakang mobil kami.Saya
sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.
Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang
wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya
dengan suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!"
Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di
sini?"
Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh
perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya
di sini,Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!'
Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal
Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan
anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik
kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya
untuk menulis ini untukmu..." Sayapun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy,
mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom,
biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak
akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."
Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu,
tolong katakan...Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya
sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan...!!!"
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut).
Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di
belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi
menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk
ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila
melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat
melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini...
Meskipun hujan deras, dengan
kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu
Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
Marry Scheleery
--------
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Aku akui
aku juga masih mencari kata-kata yangb bisa aku baca dan nyata..
Setiap menatap-Mu di malam yang gulita rasanya justru
Kau yang terlalu banyak memberiku cinta tanpa
sepatahpun keluh kesah
Aku tak tahu apa kata orang yang melihatku
mencari-cari bunga karena mabukku pada-Mu, sebab..
Aku akui aku memang cinta pada-Mu..
Janji Bertemu di Surga
''Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. (Yunus: 15).
Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.'
Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo'akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"
Dia menjawab: "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan".
Pemuda itu bertanya: "Jika demikian, kemanakah kau menuju?"
Dia jawab: "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."
Pemuda itu berkata: "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab: "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."
Si Pemuda bertanya: "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.