Sabtu, 10 April 2010

Burung Gagak



Pada suatu sore seorang ayah bersama anaknya yang baru saja
menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di
halaman sambil memperhatikan suasana di sekitar mereka.
Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon.
Si ayah lalu menunjuk ke arah gagak sambil bertanya, "Nak, apakah
benda tersebut?"

"Burung gagak", jawab si anak.
Si ayah mengangguk-angguk, namun beberapa saat kemudian mengulangi
lagi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar
jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit keras, "Itu burung gagak
ayah!" Tetapi sejenak kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang
sama.Si anak merasa agak marah dengan pertanyaan yang sama dan
diulang-ulang, lalu menjawab dengan lebih keras, "BURUNG GAGAK!!"
Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi
mengajukan pertanyaan yang sama sehingga membuatkan si anak kehilangan
kesabaran dan menjawab dengan nada yang! ! ogah-ogahan menjawab
pertanyaan si ayah, "Gagak ayah.......".

Tetapi kembali mengejutkan si anak, beberapa saat kemudian si
ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanyakan pertanyaan
yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabaran dan
menjadi marah. "Ayah!!! saya tidak mengerti ayah mengerti atau tidak.
Tapi sudah lima kali ayah menanyakan pertanyaan tersebut dan sayapun
sudah memberikan jawabannya. Apakah yang ayah ingin saya katakan????
Itu burung gagak, burung gagak ayah.....", kata si anak dengan nada
yang begitu marah.

Si ayah kemudian bangkit menuju ke dalam rumah meninggalkan si
anak yang terheran-heran. Sebentar kemudian si ayah keluar lagi dengan
membawa sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada
anaknya yang masih marah dan bertanya-tanya. Ternyata benda tersebut
sebuah diari lama. "Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam
diari itu", pinta si ayah.

Si anak taat dan membaca bagian yang berikut ......
"Hari ini aku di halaman bersama anakku yang genap berumur lima
tahun.Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon. Anakku terus menunjuk
ke arah gagak dan bertanya, "Ayah, apakah itu?" Dan aku
menjawab, "Burung gagak".
Walau bagaimanapun, anak ku terus bertanya pertanyaan yang sama
dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Sampai 25 kali
anakku bertanya demikian, dan demi rasa cinta dan sayang aku terus
menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap bahwa
hal tersebut menjadi suatu pendidikan yang berharga."

Setelah selesai membaca bagian tersebut si anak mengangkat muka
memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan
bersuara, " Hari ini ayah baru menanyakan kepadamu pertanyaan yang
sama sebanyak lima kali, dan kau telah kehilangan kesabaran dan
marah."

Pesan moral cerita ini ialah jagalah hati kedua ibu bapakmu. Jangan
sakiti hati mereka, karena merekalah yang telah merawat kamu di waktu
kecil, dengan belaian kasih sayangnya, yang mengorbankan semua yang
dimilikinya. Mereka merawatmu dengan penuh kesabaran dan keihklasan.
Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil.

Sumber: Ungknown (Tidak Diketahui)

Sebaik-baik manusia yaitu bermanfaat bagi orang lain...