Sabtu, 10 April 2010

Dilema

Sudah hampir satu minggu aku bangun terlambat, mungkin itu salah satu dari faktor hujan dan sekarang ini aku lagi halangan. Tak sempat sarapan dan al matsurah juga hampir terlupakan. Sungguh karena suasana yang dingin membuat dampak pada diriku yang lumayan besar. Biasanya, setiap bangun pagi aku masih menyempatkan untuk beres-beres rumah, karena musim hujan ini membuatku selalu malas untuk melakukan aktifitas, lebih enakan tidur.

Sepertia biasanya, rutinitasku sebagai pelajar di Sebuah sekolah yang cukup terkenal yaitu pergi sekolah dan belajar. Tapi, aku sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga, jadi ada beberapa tambahan pelajaran di sekolah untuk mengulang kembali seluruh mata pelajaran dari kelas satu. Apalagi waktu pelaksanaan Ujian Nasional telah dimajukan. Hal ini memang telah menjadi kontroversi dikalangan masyarakat. Terlebih lagi kepada kami,para pelajar. Setelah pulang sekolah, aku melanjutkannya lagi dengan les, dan setelah les aku juga mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Begitulah keseharianku, dipenuhi dangan belajar dan belajar. Tapi, aku toh tidak semakin pintar saja. Pelajaran yang masuk bagaikan angin yang hanya lewat sebentar dan tak ada yang singgah. Mungkin isi kepalaku sudah penuh dengan berbagi macam masalah, sampai-sampai pelajaran tak muat untuk masuk ke kepalaku. Akan tetapi hal itu tidak membuatku semakin malas, aku tetap menjalankannya dengan tenang. insyaAllah itu tak menjadi percuma di kehidupanku kelak.

Beberapa hari yang lalu ibuku menyuruh agar aku berhenti melanjutkan bimbingan belajar karena beliau merasa nilaiku pas-pasan saja tak ada yang meningkat, padahal hanya itulah kemampuanku dan aku merasa kelebiahnaku tidak terletak dalam bidang akademik. Meskipun beliau tidak pernah merasa puas dengan nilai yang kudapatkan dari hasil belajarku, tidak menutup kemungkinan aku bisa berprestasi di bidang non akademik. Aku selalu memberikan semangat kepada diriku bahwa tidak seamua orang memiliki kelebihan seperti apa yang aku miliki. Walaupun kadang aku merasa iri dengan teman-temanku yang berprestasi di dalam kelas. Toh itu bisa menjadi penyemangatku untuk tetap belajar dan belajar. Aku telah menanamkan pada diriku bahwa kelak orang tuaku akan bangga karena telah memiliki anak sepertiku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka. Meskipun mereka tidak ingin membiayai kuliahku karena mereka lebih senang jika aku masuk di sekolah pendidkan, sedangkan hal itu sangat bertentangan dengan pengetahuan agamaku. Aku tidak ingin tinggal di dalam asrama yang mayoritasnya berjenis kelamin laki-laki dan mengahruskan para perempuan untuk menggunakan baju yang super ketat beserta celana panjang, dan satu hal lagi memakai jilbab yang pendek dan dimasukkan ke dalam baju. Sangat berbeda dengan pakaianku sehari-hari, kemana-mana memakai pakaian yang terlihat hanya muka dan telapak tangan serta kain yang tebal dan longgar. hal ini telah menjdai permasalahn yang cukup besar dalam hidupku. Bagaimana tidak, orang tuaku yang aku sangat sayangi menyuruhku untuk mengikuti keinginan mereka dan di lain pihak itu sangat bertentangan dengan idealism yang aku miliki. Dilemma telah menghantuiku, sejak keinginan orang tuaku itu. Sampai saat ini aku hanya bisa berdo’a kepada sang pemilik nyawa agar aku dapat emnyelesaikan permasalahan ini, entah dengan bantuan teman atau hanya diriku sendiri. Hanya Allah yang tahu apa yang baik untukku.

Sebaik-baik manusia yaitu bermanfaat bagi orang lain...