Minggu, 11 April 2010

Filsafat Angka


Manusia berawal dari satu ketiadaan, lalu terlahir, tumbuh, tua, dan kembali menjadi tiada. Jadi manusia pada hakikatnya tiada. Ia ibaratnya angka nol. Angka satu menunjukkan eksistensi Tuhan Yang Satu. Satu adalah asal dari segala angka. Dua adalah satu sebanyak dua. Tiga adalah satu sebanyak tiga. Yang asli hanyalah satu. Sekarang mari kita jajar angka nol. Tiga nol, seratus nol, satu kilometer angka nol, nilainya tetap nol juga. Nol tak punya makna. Ia adalah kehampaan. Tapi mari kita coba jajar angka nol di belakang angka satu. Satu nol menjadi sepuluh. Enam angka nol menjadi sejuta. Seratus angka nol menjadi….? Anda bisa mengitungnya sendiri. Maknanya apa? Hidup kita sesungguhnya tak punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita untuk selain Allah. Untuk jabatan, kekuasaan, gelar, wanita atau pria yang kita cintai atau apa pun selain Allah. Karena itu semua adalah kenihilan dan kepalsuan. Bukankah segala sesuatu selain Allah adalah nol? Mulanya tiada dan suatu saat akan kembali menjadi tiada. Hidup kita hanya akan punya makna jika kita mengorientasikan segala perbuatan kita hanya untuk mengabdi pada Allah, Zat Yang Satu. Kita belajar untuk Allah. Kita berkata “tidak” pada kekuasaan zalim bukan untuk merebut kekuasaan itu sendiri tapi untuk sepenuhnya membela kebenaran Tuhan. Kita bekerja ikhlas karena Allah. Semua berasal dari Allah dan akan kita kembalikan kepada Allah. Bukankah Allah telah mengajarkan kalimat yang sangat indah kepada kita? “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata, Tuhan sekalian alam.”
Sebaik-baik manusia yaitu bermanfaat bagi orang lain...